"Dan janganlah sekali-kali kebencianmu kepada suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."(QS.Al-Maaidah : 8 )
Diantara faidah puasa terhadap
tarbiyah ijtima’iyah (pendidikan sosial) dalam jiwa orang-orang yang berpuasa
adalah bahwa puasa menguatkan keimanan orang yang beriman kepada al-haq, teguh
di atas jalan kebenaran, berdakwah kepadanya dan berakhlak dengannya.
Al-Haq mempunyai kedudukan yang
tinggi dalam Islam. Di antara nama Allah Al-Haq.
Yang demikian
itu, karena Sesungguhnya Allah, Dialah yang haq.” (Al-Hajj : 6).
Dan risalah
Islam yang merupakan penutup semua syariat isisnya adalah dakwah mengajak
al-haq dan menguatkan pilar-pilarnya.
Wahai manusia,
Sesungguhnya telah datang Rasul (Muhammad) itu kepadamu dengan (membawa)
kebenaran dari Tuhanmu. (An-Nisa : 170)
Dengan puasa
seorang raja, presiden, pemimpin, pejabat tinggi, direktur, orang-orang kuat
dan konglomerat ingat bahwa mereka sama seperti rakyat. Membutuhkan rizki,
makanan dan minuman dari Allah. Mereka tidak berbeda dengan orang-orang miskin
dan lemah, merasa lapar dan haus jika tidak makan dan minum. Oleh karena itu,
apa alasan mereka melarang rakyat makan dan minum. Oleh karena itu, apa alasan
mereka melarang rakyat makan dan minum? Kenapa hak-hak rakyat tidak mereka
berikan? Jika mereka tidak diberi kekuasaan oleh Allah, pasti mereka menjadi
orang-orang lemah dan orang-orang pinggiran di dunia ini.
Itulah yang
pertama kali diingat oleh orang yang berpuasa siapapun orangnya. Hakikat al-haq
boleh jadi mereka lupakan di bulan lain. Dan betapa indahnya dan jauhnya
jangkauan doa seorang Mukmin ketika ia berbuka puasa.
“ Ya Allah,
untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rizkiMu aku berbuka puasa.”
Disini ia
mengakui bahwa pada dasarnya rizki adalah milik Allah. Kekayaan adaIah milik
Allah. Semuanya adalah milik Allah. Ia tidak memiliki apa-apa jika tidak diberi
Allah. Itulah watak dan ciri ubudiyah yang paling khas.
Orang kaya tidak
berlaku kasar terhadap orang miskin. Seseorang tidak memutuskan hubungan
kekerabatan dan tidak menyakiti tetangganya, jika ia tidak lupa akan ikatan
sosialini dilupakan, maka seseorang
hidup hanya untuk dirinya sendiri dan bukan untuk masyarakatnya. Ia hidup untuk
perutnya dan hawa nafsunya dan bukannya untuk umat dengan segala kebutuhannya.
Tapidengan puasa, setiap orang sadar bahwa ia
adalah bagian dari masyarakat, kembalikepadanya, dengannya dan dibawah perlindungannya. Ia lapar dengan
mereka. Berbuka puasa dengan mereka. Dan sama-sama menyambut hari raya dengan
mereka. Ketika hari raya tiba, ia ingat bahwa ternyata masih banyak anggota
masyarakatnya yang miskin, umatnya yang dilanda kelaparan, kehausan dan serba
kekurangan. Kalaulah tidak karena puasa, ia tidak ingat ini semua.
Oleh karena itu,
sesungguhnya hati orang yang berpuasa itu sangat bersih, dermawan, sosial dan
paling akrab dengan masyarakat. Bukanlah Rasulullah Shallalahu Alaihi Wasallam
adalah orang yang paling dermawan dan sosial? Pada bulan Ramadhan, beliau tiada
ubahnya seperti angin dan hujan yang memberikan segala-galanya untuk orang
lain.
Pada suatu hari,
Aisyah menyumbangkan uang sebanyak seratus ribu dirham kepada masyarakatnya,
padahal ketika itu sedang berpuasa dan pakaiannya telah usang. Pembantunya
berkata, “ Kenapa kok tidak disisakan untuk keperluan buka puasa kita?” Aisyah
menjawab, “ Kenapa baru sekarang engkau berkata begitu? Kalau tadi engkau
mengatakannya, pasti akan aku sisakan untuk keperluan buka puasa kita.”
Hai manusia,
lihatlah betapa tinggi dan solidernya hati orang yang berpuasa hingga ia lupa
akan kebutuhan pribadinya. Yang selalu ia ingat dan pikirkan adalah umat dan
kebutuhan mereka. Dan itulah yang diharapkan Allah dari orang-orang yang
berpuasa.
Hai manusia, lihatlah
betapa tinggi dan solidernya hati orang yang berpuasa hingga ia lupa akan
kebutuhan pribadinya.Yang selalu ia
ingat dan pikirkan adalah umat dan kebutuhan mereka. Dan itulah yang diharapkan
Allah dari orang-orang yang berpuasa.
Termasuk dalam
arti kata al-haq ialah bahwa para tokoh masyarakat, pemimpin, pejabat, pegawai,
dan politikus hendaknya bekerja bukan untuk tujuan mengejar prestise dan nama
besar. Tapi demi mencari keridhaan Allah.Apabila rakyatnya tidak mengakuinya dan menerimanya, mereka tidak lupa
diri dan salah tingkah. Jika rakyatnya mengakuinya dan menerimanya mereka tidak
lupa diri dan salah tingkah.Jika rakyat
meminta pendapatnya, maka mereka bersikap serius dan tidak membohongi rakyatnya.
Pemimpin-pemimpin seperti itulah yang bisa diandalkan membahagiakan dan
mensejahterakan rakyatnya dan Allah akan memberkahi segala ucapannya dan hasil
jihadnya.
Puasa adalah
upaya pembiasan akhlak yang mulia. Ia adalah ibadah yang tersembunyi dan
rahasia pribadi antara seorang hamba dengan Tuhannya. Tidak ada unsure riya’
kamuflase, perasaan ingin dipuji dan dikenal didalamnya. Orang beriman merasa
puas bahwa kelaparannya karena berpuasa dan ketaatannya diketahui Allah dan
Allah sendiri yang melihat kejujuran niatnya. Cukup baginya bahwa Allah
membersihkan hatinya dari sifat riya’ dan suka menipu menjadikan lisan dan
mulutnya berkata benar dan ingkar janji.
Ia malu untuk
berbohong, menipu, mencuri, menjelek-jelekan orang lain karena mematuhi sabda
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam :
“ Barang siapa
tidak berhenti dari berbohong dan terus berbohong, maka tidak ada artinya disisi
Allah, ia tidak makan dan minum (puasa). “
Sesungguhnya
Allah Ta’ala dalam banyak ayat Al-Qur’an menjelaskan kepada kita faidah dan
rahasia undang-undang-Nya dan mendesak akal kita berpikir dan bekerja keras dan
member isyarat bahwa undang-undang Ilahiyah yang abadi ini fungsinya tiada lain
untuk mewujudkan kemaslahatan untuk manusia dan menghapus segala madharat dari
mereka.
Lihat firman
Allah Ta’ala ketika Ia mengajari kita tata cara masuk rumah yang benar, Allah
menutup ayat tentang hal tersebut dengan firman-Nya(Itu lebih suci bagi kalian). Ketika Allah
menyuruh kaum beriman menahan pandangan, Allah menjelaskan faidahnya dari sisi
social dengan firman-Nya (Yang demikian itu lebih suci bagi mereka).
Dan ketika Allah
menyuruh kita berpuasa. Ia langsung menerangkan hikmah dan faidahnya dengan
firman-Nya :
“Hai orang-orang yang
beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang
sebelum kamu agar kamu bertakwa. ” (Al-Baqarah : 183)
Jadi hikmah
disyariatkan puasa seperti yang dijelaskan di atas ialah taqwa atau ittiqa’.
Taqwa adalah mengerjakan seluruh akhlak mulia yang disukai oleh Allah dan yang
mengerjaknnya dipuji di dunia karena akhlaknya tersebut. Sedang ittiqa’ atau
wiqayah adalah terjaga dari akhlak tercela yang merugikan masyarakat dan
manusia secara umum.
Lihat sabda
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tentang adab berpuasa :
“Sesungguhnya
puasa adalah pelindung. Jika setiap orang dari kalian berpuasa, maka jangan
berkata yang tidak sopan dan berbuat yang tidak senonoh. “
Dalam hadits di
atas Rasulullah Shallahu Alaihi Wasallam terlebih dahulu menjelaskan hikmah
puasa dan baru setelah itu menerangkan adab berpuasa. Cara seperti itu agar
lebih kuat kesan dan pengaruhnya di jiwa serta orang beriman merasa lebih
tenang ketika menjalankan ibadah tersebut.
Jauh sebelum
itu, Nabi Ibrahim menggunakan cara yang sama ketika beliau meminta Allah
memperlihatkan bagaimana Ia menghidupkan orang yang telah mati. Allah bertanya
, “ Apakah kamu belum yakin? “ Ibrahim menjawab, “ Aku telah meyakininya, akan
tetapi agar hatiku lebih tenang.”
Jadi menerangkan
sebab dan rahasia sama sekali tidak bertentangan dengan iman atau
mengisyaratkan lemahnya iman. Rasulullah Sahallahu Alaihi Wasallam sendiri
seringkali menerangkan sebab suatu hukum dan hikmahnya dalam banyak masalah,
seperti yang beliau lakukan ketika beliau melarang orang menikahi wanita dengan
bibinya sekaligus. Beliau menjelaskan pelarangannya dengan mengatakan, “ Jika
itu kalian kerjakan, maka kalian memutus hubungan kekerabatan kalian.”
Sesungguhnya
bangsa kita tiada ubahnya seperti insan
pribadi dalam perjalanan hidupnya yang panjang amat memerlukan saat-saat untuk
beristirahat dan menenangkan diri. Saat-saat untuk memperbaiki kondisinya yang
rusak, memperbaharui pilar-pilarnya yang tadinya lemah dan membenahi seluruh
persoalannya. Saat-saat seperti itu amat vital dalam sejarah insan pribadi
maupun bangsa. Apabila ia bisa menggunakan saat-saat tersebut dengan baik maka
itu adalah kunci kebaikan untuk masa mendatang dan kunci keabadian yang
tercatat dengan tinta emas dalam sejarah.
Dan Ramadhan
tiada lain merupakan Momentum untuk Perbaikan itu. Di dalamnya bangsa dan insan
pribadi mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki sejarahnya. Ramadhan adalah
terminal untuk memobilisir kekuatan jiwa, ruhiyah (mental) dan akhlak yang
diperlukan setiap bangsa dan sejarahnya dan insan pribadi dalam hidupnya.
Banyak hal yang diberikan Ramadhan kepada kita. Diantaranya Ramadhan memberi
peringatan akan kebenaran yang menjadi landasan pijakan langit dan bumi,
berakhlak dengan akhlak kuat karena tanpa kekuatan, umat tidak pernah menang.
Dan cinta kemerdekaan karena tanpa kemerdekaan kehormatan manusia terasa tidak
lengkap.
Kebenaran,kekuatan
dan kemerdekaan itulah diantara sekian banyak hal yang dihadiahkan bulan
Ramadhan dalam hari-harinya yang berisikan kelaparan dan kehausan itu. Orang
Muslim yang berpuasa karena taat, sukarela, beribadah kepada Allah dan tunduk
kepada kebesaran-Nya dan berharap dekat dengan-Nya melihat bahwa egoisme, mengisolasi
diri, tidak menyatu dengan masyarakat dalam suka-dukanya adalah suatu kebatilan
yang harus ditinggalkan dan dikalahkan.
Baginya hawa
nafsu, syahwat, dan kezaliman, penindasan, permusuhan dan kebencian adalah
kelemahan yang membunuh jiwa bangsa dan untuk itu ia harus diserang dan dilawan.
Baginya kenikmatan bermunajat kepada Allah dan menerapkan syariat-Nya adalah
kemerdekaan yang jauh lebih berharga daripada beribadah kepada selain Allah,
makanan, minuman, kemewahan, kerakusan, dan mimpi-mimpi bohong di siang hari.
Ia merdeka dan kemerdekaannya tidak hanya dalam bentuk ia bisa pergi kemana
saja yang ia maui dengan leluasa namun ia merdeka dalam bentuk ia bisa
mengendalikan perasaan dan kecenderungannya, memenjarakan dan melepaskan sesuai
dengan hati nuraninya.
Sesungguhnya
itulah kemerdekaan jiwa kendati ia dihimpit oleh tembok. Itulah kemerdekaan
akal, meski ia hidup di daerah yang bertuan. Dan itulah kemerdekaan
berkehendak, walau ia diikat dengan tali besi. Kita mencatat kemenangan demi kemenangan dalam
perang membela kebenaran dan menghadiahkan kepada sejarah manusia para pahlawan
para mujahid dakwah dan gerakan islah para penakluk, penegak hukum dan pemandu
ilmu pengetahuan.
Tidaklah Anda
lihat kaum Muslimin di Perang Badar 17 Ramadhan tahun ke-II Hijriyah. Tidakkah Anda lihat
ketika itu mereka memasuki medan pertempuran dengan pasukan dan persenjataan
yang minim, tapi sanggup mengalahkan dan memporakporandakan musuh-musuhnya yang
tidak lain sepupu-sepupu mereka sendiri dan bangsanya sendiri dengan gilang gemilang
dan diabadikan dalam Al-Qur’andengan rangkaian
ayat-ayatnya…..
Tidaklah Anda
lihat bahwa mereka meraih kemenangan yang fantastis itu karena puasa telah
meniupkan kekuatan, kebenaran dan kemerdekaan ruhiyah dalam diri mereka. Itulah
yang melatarbelakangi mereka terjun ke medan laga dengan mental baja dan jiwa
merdeka! Jika mereka menyerang dengan kekuatan Allah. Jika mereka membidik
musuh maka dengan kekuatan dan ilmu Allah. Dan jika mereka menyerbu dan
menyerang, maka kekuatan al-haq dan sinar ruh yang mengarahkan mereka dan
menunjukkan tempat-tempat musuh kepada mereka.
Kemudian
tidakkah Anda lihat kemenangan-kemenangan yang diraih kaum Muslimin di Perang
Yarmuk, Qadisiyah, Julaila’, Hittin dan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.
Apakah seluruh kemenangan di atas dapat diperoleh jika tentara-tentaranya tidak
berakhlak dengan akhlak orang-orang yang berpuasa: kesucian dan ketinggian
hati, semangat berkorban, sabar menghadapi ujian, taat kepada Allah, tidak
gentar kepada selain Allah dan tidak terpengaruh dengan kekuatan kebatilan
betapun banyaknya.
Mereka berhasil
mengkoleksi kemenangan-kemenangan tersebut karena hati dan jiwa mereka terikat
dengan kekuatan Allah. Siapa sih yang mampu mengalahkan Allah yang Maha Menang?
Yaa….siapakah yang mampu mengalahkan Allah?
Saatnya kita
mengisi Kemerdekaan ini nilai-nilai Ramadhan memberantas kemiskinan dan KKN.
Pasangan calon Walikota/WakilWalikota Bekasi, Ahmad Syaikhu dan Kamaludin Djaini, kemarin melakukan penandatanganan MoU dengan Gerakan Pemuda (GP) Anshor Kota Bekasi, salah satu organisasi milik warga Nahdhatul Ulama. Isi MoU tersebut adalah garansi jika pasangan ini menang, mereka akan tetap melestarikan budaya tahlil dan maulid Nabi Muhammad SAW.
Jamaludin Ketua GP Anshor Kota Bekasi, menjelaskan Anshor mengambil garis kebijakan berbeda dengan PBNU Kota Bekasi. Menurutnya, langkah GP Anshor memberikan dukungan terhadap pasangan Ahmad Syaikhu/Kamaludin Djaini dengan pertimbangan pihaknya tidak mau bersikap furu’iyah, seperti yang dilakukan oleh NU Kota Bekasi.
“GP Anshor melihat pasangan yang diusung PKS ini dari sisi akidah, bukannya dari sisi furu’iyah seperti yang NU khawatirkan jika PKS berkuasa, tahlil, dzikir serta Maulid Nabi ditiadakan,” ujarnya. Untuk itu, Anshor meminta calon PKS Ustadz Syaikhu meneken MoU.(AbdanSyakuro)
BELUM LAGI hasil penjaringan calon wakil walikota dari PKS diumumkan, dua tokoh eksternal yang ikut serta tersebut. Padahal mereka sempat mengikuti fit and proper test yang digelar parpol berlambang bulan sabit kembar itu.
SEJAK beberapa pekan terkhir, sudut-sudut Kota Bekasi dikepung dengan spanduk dan baliho warna-warni berwarna dasar hijau orange dan merah. Inikah koalisi PPP, PKS dan PDIP? Tunggu dulu. Mereka justru menamakan diri sebagai Relawan Ahmad Syaikhu (RAS).