"Dan janganlah sekali-kali kebencianmu kepada suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."(QS.Al-Maaidah : 8 )
 
PUASA DAN PENDIDIKAN SOSIAL
Kumpulan Tulisan
Tuesday, 23 September 2008

Diantara faidah puasa terhadap tarbiyah ijtima’iyah (pendidikan sosial) dalam jiwa orang-orang yang berpuasa adalah bahwa puasa menguatkan keimanan orang yang beriman kepada al-haq, teguh di atas jalan kebenaran, berdakwah kepadanya dan berakhlak dengannya.

Al-Haq mempunyai kedudukan yang tinggi dalam Islam. Di antara nama Allah Al-Haq.

 ‘ Yang demikian itu, karena Sesungguhnya Allah, Dialah yang haq.” (Al-Hajj : 6).

Dan risalah Islam yang merupakan penutup semua syariat isisnya adalah dakwah mengajak al-haq dan menguatkan pilar-pilarnya.

Wahai manusia, Sesungguhnya telah datang Rasul (Muhammad) itu kepadamu dengan (membawa) kebenaran dari Tuhanmu. (An-Nisa : 170)

Dengan puasa seorang raja, presiden, pemimpin, pejabat tinggi, direktur, orang-orang kuat dan konglomerat ingat bahwa mereka sama seperti rakyat. Membutuhkan rizki, makanan dan minuman dari Allah. Mereka tidak berbeda dengan orang-orang miskin dan lemah, merasa lapar dan haus jika tidak makan dan minum. Oleh karena itu, apa alasan mereka melarang rakyat makan dan minum. Oleh karena itu, apa alasan mereka melarang rakyat makan dan minum? Kenapa hak-hak rakyat tidak mereka berikan? Jika mereka tidak diberi kekuasaan oleh Allah, pasti mereka menjadi orang-orang lemah dan orang-orang pinggiran di dunia ini.

Itulah yang pertama kali diingat oleh orang yang berpuasa siapapun orangnya. Hakikat al-haq boleh jadi mereka lupakan di bulan lain. Dan betapa indahnya dan jauhnya jangkauan doa seorang Mukmin ketika ia berbuka puasa.

“ Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rizkiMu aku berbuka puasa.”

Disini ia mengakui bahwa pada dasarnya rizki adalah milik Allah. Kekayaan adaIah milik Allah. Semuanya adalah milik Allah. Ia tidak memiliki apa-apa jika tidak diberi Allah. Itulah watak dan ciri ubudiyah yang paling khas.

Orang kaya tidak berlaku kasar terhadap orang miskin. Seseorang tidak memutuskan hubungan kekerabatan dan tidak menyakiti tetangganya, jika ia tidak lupa akan ikatan sosial  ini dilupakan, maka seseorang hidup hanya untuk dirinya sendiri dan bukan untuk masyarakatnya. Ia hidup untuk perutnya dan hawa nafsunya dan bukannya untuk umat dengan segala kebutuhannya.

Tapi  dengan puasa, setiap orang sadar bahwa ia adalah bagian dari masyarakat, kembali kepadanya, dengannya dan dibawah perlindungannya. Ia lapar dengan mereka. Berbuka puasa dengan mereka. Dan sama-sama menyambut hari raya dengan mereka. Ketika hari raya tiba, ia ingat bahwa ternyata masih banyak anggota masyarakatnya yang miskin, umatnya yang dilanda kelaparan, kehausan dan serba kekurangan. Kalaulah tidak karena puasa, ia tidak ingat ini semua.

Oleh karena itu, sesungguhnya hati orang yang berpuasa itu sangat bersih, dermawan, sosial dan paling akrab dengan masyarakat. Bukanlah Rasulullah Shallalahu Alaihi Wasallam adalah orang yang paling dermawan dan sosial? Pada bulan Ramadhan, beliau tiada ubahnya seperti angin dan hujan yang memberikan segala-galanya untuk orang lain.

Pada suatu hari, Aisyah menyumbangkan uang sebanyak seratus ribu dirham kepada masyarakatnya, padahal ketika itu sedang berpuasa dan pakaiannya telah usang. Pembantunya berkata, “ Kenapa kok tidak disisakan untuk keperluan buka puasa kita?” Aisyah menjawab, “ Kenapa baru sekarang engkau berkata begitu? Kalau tadi engkau mengatakannya, pasti akan aku sisakan untuk keperluan buka puasa kita.”

Hai manusia, lihatlah betapa tinggi dan solidernya hati orang yang berpuasa hingga ia lupa akan kebutuhan pribadinya. Yang selalu ia ingat dan pikirkan adalah umat dan kebutuhan mereka. Dan itulah yang diharapkan Allah dari orang-orang yang berpuasa.

Hai manusia, lihatlah betapa tinggi dan solidernya hati orang yang berpuasa hingga ia lupa akan kebutuhan pribadinya.  Yang selalu ia ingat dan pikirkan adalah umat dan kebutuhan mereka. Dan itulah yang diharapkan Allah dari orang-orang yang berpuasa.

Termasuk dalam arti kata al-haq ialah bahwa para tokoh masyarakat, pemimpin, pejabat, pegawai, dan politikus hendaknya bekerja bukan untuk tujuan mengejar prestise dan nama besar. Tapi demi mencari keridhaan Allah. Apabila rakyatnya tidak mengakuinya dan menerimanya, mereka tidak lupa diri dan salah tingkah. Jika rakyatnya mengakuinya dan menerimanya mereka tidak lupa diri dan salah tingkah.  Jika rakyat meminta pendapatnya, maka mereka bersikap serius dan tidak membohongi rakyatnya. Pemimpin-pemimpin seperti itulah yang bisa diandalkan membahagiakan dan mensejahterakan rakyatnya dan Allah akan memberkahi segala ucapannya dan hasil jihadnya.

Puasa adalah upaya pembiasan akhlak yang mulia. Ia adalah ibadah yang tersembunyi dan rahasia pribadi antara seorang hamba dengan Tuhannya. Tidak ada unsure riya’ kamuflase, perasaan ingin dipuji dan dikenal didalamnya. Orang beriman merasa puas bahwa kelaparannya karena berpuasa dan ketaatannya diketahui Allah dan Allah sendiri yang melihat kejujuran niatnya. Cukup baginya bahwa Allah membersihkan hatinya dari sifat riya’ dan suka menipu menjadikan lisan dan mulutnya berkata benar dan ingkar janji.

Ia malu untuk berbohong, menipu, mencuri, menjelek-jelekan orang lain karena mematuhi sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam :

“ Barang siapa tidak berhenti dari berbohong dan terus berbohong, maka tidak ada artinya disisi Allah, ia tidak makan dan minum (puasa). “

 
RAIH TAQWA DENGAN RAMADHAN
Kumpulan Tulisan
Friday, 19 September 2008

Sesungguhnya Allah Ta’ala dalam banyak ayat Al-Qur’an menjelaskan kepada kita faidah dan rahasia undang-undang-Nya dan mendesak akal kita berpikir dan bekerja keras dan member isyarat bahwa undang-undang Ilahiyah yang abadi ini fungsinya tiada lain untuk mewujudkan kemaslahatan untuk manusia dan menghapus segala madharat dari mereka.

Lihat firman Allah Ta’ala ketika Ia mengajari kita tata cara masuk rumah yang benar, Allah menutup ayat tentang hal tersebut dengan firman-Nya  (Itu lebih suci bagi kalian). Ketika Allah menyuruh kaum beriman menahan pandangan, Allah menjelaskan faidahnya dari sisi social dengan firman-Nya (Yang demikian itu lebih suci bagi mereka).

Dan ketika Allah menyuruh kita berpuasa. Ia langsung menerangkan hikmah dan faidahnya dengan firman-Nya :

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. ” (Al-Baqarah : 183)

Jadi hikmah disyariatkan puasa seperti yang dijelaskan di atas ialah taqwa atau ittiqa’. Taqwa adalah mengerjakan seluruh akhlak mulia yang disukai oleh Allah dan yang mengerjaknnya dipuji di dunia karena akhlaknya tersebut. Sedang ittiqa’ atau wiqayah adalah terjaga dari akhlak tercela yang merugikan masyarakat dan manusia secara umum.

Lihat sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tentang adab berpuasa :

“Sesungguhnya puasa adalah pelindung. Jika setiap orang dari kalian berpuasa, maka jangan berkata yang tidak sopan dan berbuat yang tidak senonoh. “

Dalam hadits di atas Rasulullah Shallahu Alaihi Wasallam terlebih dahulu menjelaskan hikmah puasa dan baru setelah itu menerangkan adab berpuasa. Cara seperti itu agar lebih kuat kesan dan pengaruhnya di jiwa serta orang beriman merasa lebih tenang ketika menjalankan ibadah tersebut.

Jauh sebelum itu, Nabi Ibrahim menggunakan cara yang sama ketika beliau meminta Allah memperlihatkan bagaimana Ia menghidupkan orang yang telah mati. Allah bertanya , “ Apakah kamu belum yakin? “ Ibrahim menjawab, “ Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku lebih tenang.”

Jadi menerangkan sebab dan rahasia sama sekali tidak bertentangan dengan iman atau mengisyaratkan lemahnya iman. Rasulullah Sahallahu Alaihi Wasallam sendiri seringkali menerangkan sebab suatu hukum dan hikmahnya dalam banyak masalah, seperti yang beliau lakukan ketika beliau melarang orang menikahi wanita dengan bibinya sekaligus. Beliau menjelaskan pelarangannya dengan mengatakan, “ Jika itu kalian kerjakan, maka kalian memutus hubungan kekerabatan kalian.”

Last Updated ( Friday, 19 September 2008 )
 
MOMENTUM PERBAIKAN
Kumpulan Tulisan
Wednesday, 17 September 2008

 Sesungguhnya bangsa kita tiada ubahnya seperti  insan pribadi dalam perjalanan hidupnya yang panjang amat memerlukan saat-saat untuk beristirahat dan menenangkan diri. Saat-saat untuk memperbaiki kondisinya yang rusak, memperbaharui pilar-pilarnya yang tadinya lemah dan membenahi seluruh persoalannya. Saat-saat seperti itu amat vital dalam sejarah insan pribadi maupun bangsa. Apabila ia bisa menggunakan saat-saat tersebut dengan baik maka itu adalah kunci kebaikan untuk masa mendatang dan kunci keabadian yang tercatat dengan tinta emas dalam sejarah.

Dan Ramadhan tiada lain merupakan Momentum untuk Perbaikan itu. Di dalamnya bangsa dan insan pribadi mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki sejarahnya. Ramadhan adalah terminal untuk memobilisir kekuatan jiwa, ruhiyah (mental) dan akhlak yang diperlukan setiap bangsa dan sejarahnya dan insan pribadi dalam hidupnya. Banyak hal yang diberikan Ramadhan kepada kita. Diantaranya Ramadhan memberi peringatan akan kebenaran yang menjadi landasan pijakan langit dan bumi, berakhlak dengan akhlak kuat karena tanpa kekuatan, umat tidak pernah menang. Dan cinta kemerdekaan karena tanpa kemerdekaan kehormatan manusia terasa tidak lengkap.

Kebenaran,kekuatan dan kemerdekaan itulah diantara sekian banyak hal yang dihadiahkan bulan Ramadhan dalam hari-harinya yang berisikan kelaparan dan kehausan itu. Orang Muslim yang berpuasa karena taat, sukarela, beribadah kepada Allah dan tunduk kepada kebesaran-Nya dan berharap dekat dengan-Nya melihat bahwa egoisme, mengisolasi diri, tidak menyatu dengan masyarakat dalam suka-dukanya adalah suatu kebatilan yang harus ditinggalkan dan dikalahkan.

Baginya hawa nafsu, syahwat, dan kezaliman, penindasan, permusuhan dan kebencian adalah kelemahan yang membunuh jiwa bangsa dan untuk itu ia harus diserang dan dilawan. Baginya kenikmatan bermunajat kepada Allah dan menerapkan syariat-Nya adalah kemerdekaan yang jauh lebih berharga daripada beribadah kepada selain Allah, makanan, minuman, kemewahan, kerakusan, dan mimpi-mimpi bohong di siang hari. Ia merdeka dan kemerdekaannya tidak hanya dalam bentuk ia bisa pergi kemana saja yang ia maui dengan leluasa namun ia merdeka dalam bentuk ia bisa mengendalikan perasaan dan kecenderungannya, memenjarakan dan melepaskan sesuai dengan hati nuraninya.

Sesungguhnya itulah kemerdekaan jiwa kendati ia dihimpit oleh tembok. Itulah kemerdekaan akal, meski ia hidup di daerah yang bertuan. Dan itulah kemerdekaan berkehendak, walau ia diikat dengan tali besi.  Kita mencatat kemenangan demi kemenangan dalam perang membela kebenaran dan menghadiahkan kepada sejarah manusia para pahlawan para mujahid dakwah dan gerakan islah para penakluk, penegak hukum dan pemandu ilmu pengetahuan.

Tidaklah Anda lihat kaum Muslimin di Perang Badar 17 Ramadhan  tahun ke-II Hijriyah. Tidakkah Anda lihat ketika itu mereka memasuki medan pertempuran dengan pasukan dan persenjataan yang minim, tapi sanggup mengalahkan dan memporakporandakan musuh-musuhnya yang tidak lain sepupu-sepupu mereka sendiri dan bangsanya sendiri dengan gilang gemilang dan diabadikan dalam Al-Qur’andengan rangkaian ayat-ayatnya…..

Tidaklah Anda lihat bahwa mereka meraih kemenangan yang fantastis itu karena puasa telah meniupkan kekuatan, kebenaran dan kemerdekaan ruhiyah dalam diri mereka. Itulah yang melatarbelakangi mereka terjun ke medan laga dengan mental baja dan jiwa merdeka! Jika mereka menyerang dengan kekuatan Allah. Jika mereka membidik musuh maka dengan kekuatan dan ilmu Allah. Dan jika mereka menyerbu dan menyerang, maka kekuatan al-haq dan sinar ruh yang mengarahkan mereka dan menunjukkan tempat-tempat musuh kepada mereka.

Kemudian tidakkah Anda lihat kemenangan-kemenangan yang diraih kaum Muslimin di Perang Yarmuk, Qadisiyah, Julaila’, Hittin dan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Apakah seluruh kemenangan di atas dapat diperoleh jika tentara-tentaranya tidak berakhlak dengan akhlak orang-orang yang berpuasa: kesucian dan ketinggian hati, semangat berkorban, sabar menghadapi ujian, taat kepada Allah, tidak gentar kepada selain Allah dan tidak terpengaruh dengan kekuatan kebatilan betapun banyaknya.   

Mereka berhasil mengkoleksi kemenangan-kemenangan tersebut karena hati dan jiwa mereka terikat dengan kekuatan Allah. Siapa sih yang mampu mengalahkan Allah yang Maha Menang? Yaa….siapakah yang mampu mengalahkan Allah?

Saatnya kita mengisi Kemerdekaan ini nilai-nilai Ramadhan memberantas kemiskinan dan KKN.

Last Updated ( Tuesday, 23 September 2008 )
 
USTADZ AHMAD SYAIKHU TEKEN MOU SOAL TAHLIL & MAULID NABI
Kliping Koran
Friday, 07 December 2007

> GP Anshor Dukung Jagoan PKS

 

Pasangan calon Walikota/WakilWalikota Bekasi, Ahmad Syaikhu dan Kamaludin Djaini, kemarin melakukan penandatanganan MoU dengan Gerakan Pemuda (GP) Anshor Kota Bekasi, salah satu organisasi milik warga Nahdhatul Ulama. Isi MoU tersebut adalah garansi jika pasangan ini menang, mereka akan tetap melestarikan budaya tahlil dan maulid Nabi Muhammad SAW.

 

Jamaludin Ketua GP Anshor Kota Bekasi, menjelaskan Anshor mengambil garis kebijakan berbeda dengan PBNU Kota Bekasi. Menurutnya, langkah GP Anshor memberikan dukungan terhadap pasangan Ahmad Syaikhu/Kamaludin Djaini dengan pertimbangan pihaknya tidak mau bersikap furu’iyah, seperti yang dilakukan oleh NU Kota Bekasi.

 

“GP Anshor melihat pasangan yang diusung PKS ini dari sisi akidah, bukannya dari sisi furu’iyah seperti yang NU khawatirkan jika PKS berkuasa, tahlil, dzikir serta Maulid Nabi ditiadakan,” ujarnya. Untuk itu, Anshor meminta calon PKS Ustadz Syaikhu meneken MoU.(AbdanSyakuro)

 

Media                 :  Posmetro ( Bekasi-Bogor )

Halaman             :  4     

Hari / Tanggal      :  Selasa/ 4 Des '07

Last Updated ( Friday, 07 December 2007 )
 
Dua Balon Mundur Dari Penjaringan di PKS
Kliping Koran
Wednesday, 03 October 2007

BELUM LAGI hasil penjaringan calon wakil walikota dari PKS diumumkan, dua tokoh eksternal yang ikut serta tersebut. Padahal mereka sempat mengikuti fit and proper test yang digelar parpol berlambang bulan sabit kembar itu.

 

Last Updated ( Wednesday, 03 October 2007 )
 
Mengais Dukungan Dari Eksternal Partai
Kliping Koran
Wednesday, 03 October 2007

SEJAK beberapa pekan terkhir, sudut-sudut Kota Bekasi dikepung dengan spanduk dan baliho warna-warni berwarna dasar hijau orange dan merah. Inikah koalisi PPP, PKS dan PDIP? Tunggu dulu. Mereka justru menamakan diri sebagai Relawan Ahmad Syaikhu (RAS).

 

 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 Next > End >>

Results 1 - 10 of 59
Nov
20
2008
Today

Polls

Bagaimana pendapat Anda tentang perkembangan kota Bekasi?
 

Random Hadits


www.ahmadsyaikhu.com
Ahmad Syaikhu Personal Web